Himbauan Walikota Timbulkan Keresahan

0
169


Malang (Jatim), Lentera Indonesia

Peringatan hari besar Natal dan jelang tahun baru pada akhir tahun ini, harus di nikmati warga kota Malang dengan tanda tanya besar.
Hal ini terkait dengan munculnya surat himbauan walikota Malang Sutiaji, terkait Natal dan tahun baru.
Walikota yang baru di lantik beberapa waktu yang lalu, membuat sensasi dengan memunculkan surat himbauan dan isi suratnya yang cederung menimbulkan menafsiran yang negatif di masyarakat.

Seperti yang di sampaikan salah satu tokoh masyarakat kota Malang Bambang Gatot Wahyudi atau Bambang GW, menyikapi dengan keras surat edaran walikota tersebut melalui akun FB miliknya.

dan terkait komentarnya tersebut kami awak media,mencoba mengklarifikasi langsung pada beliau hari ini, dan dia mengatakan ” Menanggapi surat edaran walikota terkait perayaan natal dan tahun baru memunculkan kesan secara psikologis yg menggelisahkan kehidupan beragama yg sdh sangat baik selama ini terjaga di kota Malang. Kerukunan antar umat beragama juga begitu indah terjalin bahkan antar mereka sangat saling menghormati perayaan hari hari besar antar mereka

Tetapi sangat menghentak suasana kebatinan kita bersama ketika surat edaran walikota yg tersebar mengandung diksi yg memunculkan multi tafsir dan bisa menjadi bias makna. Penggunaan diksi demonstratif ini sangat multi tafsir pemaknaan dan penyikapan dalam perilaku di tingkat bawah.bagaimana masyarakat mengukur kata demonstratif tersebut dalam praktek di akar rumput? Sementara kita memahami bahwa natal itu hari perayaan suka cita bagi saudara-saudara kita Nasrani. Suasana suka cita bisa berubah menjadi ketegangan sosial krn imbas surat edaran itu bisa memberi keleluasaan masyarakat untuk menilai.

Sangat aneh diksi demonstratif diarahkan pada perayaan hari besar saudara saudara kita Nasrani, pdhl selama berpuluh tahun tidak ada masalah.

Kemudian ada poin yg menyatakan untuk membuat pemberitahuan pada pihak terkait. Sementara natal di sisi lain adalah momen sakral yg penuh rasa kasih lalu membuat surat pemberitahuan itu bermaksud untuk apa? Analoginya apakah kita umat Islam selama berpuluh tahun merayakan idul Fitri dan idul Adha juga membuat surat pemberitahuan? Pun pada perayaan hari besar yang lainnya misalnya galungan, suroan dan sebagainya. Pernyataan inilah yang memunculkan kesan diskriminatif dirasakan oleh saudara saudara kita Nasrani.

Demikian juga ada poin yg lain tentang kalimat jangan memaksakan karyawan muslim untuk menggunakan atribut dan aksesoris natal…. Seolah ada kesan pemaksaan selama ini. Padahal mereka semua degan suka cita ikut merayakan natal dan tahun baru dan ini pun sudah berlangsung berpuluh tahun dan tidak ada masalah.

Sehingga menjadi pertanyaan mendasar bagi kita adalah apa maksud yg sesungguhnya dg surat edaran walikota tersebut? Mengapa menggunakan diksi demonstratif* *dlm surat edaran tersebut ?* Sekaligus apa tujuannya sampai perlu membuat pemberitahuan pada pihak-pihak terkait ??

Begitu pun ada komentar dari unggahan akun warga masyarakat lain yang juga berkomentar pedas, yang menganggap kebijakan walikota tersebut akan manjadikan kota Malang, sebagai kota yang intoleran bagi kehidupan masyarakat di dalamnya.

Di sisi lain saat kami mencoba mengkonfirmasi hal ini pada ketua DPRD kota Malang yang baru Bambang HS,terlihat beliau tidak begitu mau menanggapi, dan hanya mengatakan untuk fokus saja pada poin ke 4 dari surat edaran itu.
Saat lebih lanjut kami bertanya langkah yang akan di lakukan DPRD terkait masalah surat ini, dia tidak menjawab apapun.
Begitu pula Sutiaji yang coba kami klarifikasi tentang surat tersebut melalui pesan WA juga sama sekali tidak memberi jawaban.(M.yus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here