Suplai Ikan Dunia Meningkat Setiap Tahun

0
44

Jakarta, lenteraindonesia.co.id

Akuakultur atau perikanan budidaya menjadi andalan suplai ikan dunia mengingat pertumbuhannya yang terus meningkat setiap tahun dan potensinya yang masih sangat luas untuk dikembangkan.
Sementara produksi perikanan tangkap cenderung stagnan. Dimana dalam laporan Bank Dunia “Fish to 2030 Prospect for Fisherles and Aquaculture” memprediksi konsumsi ikan dunia pada 2030 mencapai 151.771.000 ton yang terdiri atas ikan tangkapan sebesar 58.159.000 ton dan ikan budidaya sebesar 93.612.000 ton. Hal ini diungkapkan Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti kepada Lentera Indonesia baru – baru ini di Jakarta.
Menurut Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti, dimana produksi ikan dunia pada tahun 2030 sebanyak 186.842.000 ton yang disumbang dari perikanan tangkap 93.229.000 ton dan perikanan budidaya 93.612.000 ton.
Namun hal ini akuakultur terus dihadapkan pada berbagai tantangan. Diantaranya di era persaingan global, khususnya revolusi industri ke 4. Untuk itu isu utama yang diangkat dalam era ini adalah daya saing dan produktivitas, ujarnya.
Ditegaskan Susi lagi, untuk guna menghadapi persaingan dagang yang sangat ketat maka produk akuakultur harus berdaya saing tinggi. Sedangkan produktivitas dan daya saing tinggi tidak lepas dari ketersediaan input teknologi, rantai sistem produksi dan sumber daya manusia ataupun mesin yang efisien serta mutu produk yang terjamin, jelasnya.
Ditambahkan Susi, untuk menjawab peluang dan tantangan tersebut pemerintah telah meluncurkan road map implementasi industri 4.0 yang merupakan sebuah era industrialisasi yang berbasis pada modernisasi teknologi informasi yang terdapat pada penggabungan antara teknologi otomatisasi dengan teknologi internet. Maka itu mesin sudah terintegrasi dengan jaringan internet atau internet of things.
Sambungnya lagi, untuk itu industri 4.0 tentunya menjadi ajang baru sekaligus tantangan bagi subsektor akuakultur yaitu bagaimana menciptakan sistem akuakultur yang efisien berbasis teknologi digital.
Dimana tema Transform Aquaculture Business Into Industry 4.0 yang diangkat pada Aquatica Asia dan Indonesia 2018 ini sangat tepat sekali. Semoga event ini menjadi momentum sebagai titik tolak orientasi transformasi sistem akuakultur dari era konvensional ke era otomatisasi, tandasnya.
Sementara itu ditambahkan Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, ajang ini diharapkan menjadi media sharing informasi berkaitan perkembangan akupunktur baik pada tatanan nasional maupun global. Saya berharap nantinya akan tercapai berbagai kesepakatan bisnis guna mendorong investasi bidang akuakultur di Indonesia.
Indoaqua 2018 dan Aquatica Asia kata Slamet, juga harus dijadikan titik tolak bagaimana menarik minat investasi masyarakat pemilik modal untuk bekerjasama dengan para pelaku akuakultur dalam mempercepat perkembangan bisnis akuakultur diberbagai daerah di Indonesia. Saya ingin pastikan disini bahwa bisnis akuakultur saat ini telah mengalami transformasi dari semula high risk (resiko tinggi) menjadi calculated risk (resikonya terukur), paparnya.
Dimana diterangkan Slamet, dari data Direktorat Perikanan Budidaya menunjukkan produksi perikanan budidaya hingga triwulan III September 2018 tercatat 13.168.430 ton. Dimana data ini merupakan angka sementara. Meskipun begitu juga dibandingkan dengan triwulan III tahun lalu angka ini meningkat 4,36%. Peningkatan ini merupakan rata – rata produksi lele merupakan yang paling tinggi yakni sebesar 20,74% yang diikuti ikan nila 13,13%, begitu juga rumput laut 11,13% dan ikan hias 3,35%, imbuhnya.
Slamet menjelaskan, komoditas eksport perikanan budidaya seperti kakap putih, udang, kerapu dan rumput laut merupakan komoditas perikanan yang paling siap bertransformasi menuju industri 4.0. Dimana transformasi bisnis akuakultur kedalam bagian industri 4.0 diharapkan memberi solusi terbaik khususnya dalam membangun sebuah sistem produksi yang lebih efisien dan terukur mulai dari aspek teknis, manajemen dan penguatan SDM serta aspek manajemen bisnisnya, ucapnya. (Frans Doli – Lentera Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here